This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, 27 January 2019

HAJI DAN SEJARAH AGAMA-AGAMA: PENDEKATAN TEORITIS TERHADAP HAJI WILLIAM R. ROFF

A.    Pendahuluan
Setelah sebelumnya kita menelaah bersama tentang ritual, sekarang mari kita sekarang mencoba menelaah lebih dalam lagi bentuk kongkrit dari ritual itu sendiri. Karena bagaimanapun sebuah teori atau pemikiran seseorang harus diuji kebenarannya dengan berbagai pendekatan yang dia kemukakan. Untuk itu William R. Roff sangat tepat kalau dalam hal ini dia mengambil sampel Ibadah Haji sebagai bahan penelitian. Hal ini dikerenakan beberapa hal yang di antaranya adalah keberadaannya sebagai satu-satunya ritual yang paling sakral dari pada ritual-ritual yang lain baik di dalam agama Islam sendiri lebih-lebih dari pada ritual-ritual di agama-agama yang lain.
Ritual yang hanya dianggap sebagai perjalanan rohani itu telah dibangun selama berabad-abad lamanya. Sejak zaman primitif sampai zaman modern seperti sekarang ini. Pekembangan zaman yang tentunya juga merubah pola pikir masyarakatnya sama sekali tidak mempengaruhi kepada kebulatan niat muslimin untuk melaksanakannya. Begitu juga dengan berkemelutnya kondisi sosial seperti sekarang tetap tidak menjadi alasan bagi mereka untuk mengurungkan niat melestarikan dan meneruskan ajaran rasul ini.[1]
Kalau kita lihat sepintas, ritual ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu dengan proses sangat rumit, penuh dengan pengorbanan baik harta maupun jiwa. Tidak cukup itu saja, seorang yang melaksanakan ritual haji, sepulangnya dari tanah suci dia akan mendapatkan status yang tinggi yang tentunya memiliki konsekuensi moral cukup besar.
Ini memang sebuah permasalahan, tapi lebih dari itu ada permasalahan yang labih besar lagi, yaitu untuk mencari makna dan nilai yang lebih dalam lagi di balik pelaksanaan ritual tadi. Sebab, yang jelas ritual sesakral itu tidak mungkin hanya merupakan perjalanan rohani saja akan tetapi pasti mempunyai kontribusi terhadap kehidupan sosial. Inilah yang akan dibuktikan secara ilmiah oleh William R. Roff dalam karya ilmiahya “Haji Dan Sejarah Agama-Agama: Pendekatan Teoritis Terhadap Haji”.

Monday, 21 January 2019

file:///C:/Users/PAIDJO/Downloads/googlec8ccc271bb21c1d1.html

PROPOSAL TESIS ; KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DI PONDOK PESANTREN UII DAN LEMBAGA KAJIAN ISLAM MAHASISWA SUNAN PON-PES KRAPYAK YOGYAKARTA

PROPOSAL TESIS
kurikulum pendidikan islam; study di pondok pesantren uii dan lembaga kajian islam mahasiswa sunan ponpes krapyak yogyakarta.
A.    Latar Belakang Masalah
Salah satu komponen penting pada lembaga pendidikan formal yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan isi pengajaran, mengarahkan proses mekanisme pendidikan, tolak-ukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan, adalah Kurikulum.[1]
Konteks pendidikan non formal dalam hal ini adalah pendidikan Pesantren istilah kurikulum tidak dikenal, terutama pada masa prakemerdekaan, walaupun sebenarnya materi pendidikan sudah ada dan keterampilan itu ada dan diajarkan di pesantren. Kebanyakan pesantren tidak merumuskan dasar dan tujuan pesantren secara eksplisit dalam bentuk kurikulum. Tujuan pendidikan pesantren ditentukan oleh kebijakan Kyai, sesuai dengan perkembangan pesantren tersebut.[2]
Namun setiap lembaga pendidikan, Formal maupun non formal akan memerlukan rules (aturan) untuk mengatur proses pendidikan tersebut, dalam hal ini bisa disebut sebagai kurikulum. Dengan demikian secara tidak langsung kurikulum merupakan salah satu instrumen dari lembaga pendidikan, termasuk pendidikan di Pesantren.