A. Pendahuluan
Setelah sebelumnya kita menelaah bersama
tentang ritual, sekarang mari kita sekarang mencoba menelaah lebih dalam lagi bentuk
kongkrit dari ritual itu sendiri. Karena bagaimanapun sebuah teori atau
pemikiran seseorang harus diuji kebenarannya dengan berbagai pendekatan yang
dia kemukakan. Untuk itu William R. Roff sangat tepat kalau dalam hal ini dia
mengambil sampel Ibadah Haji sebagai bahan penelitian. Hal ini dikerenakan
beberapa hal yang di antaranya adalah keberadaannya sebagai satu-satunya ritual
yang paling sakral dari pada ritual-ritual yang lain baik di dalam agama Islam
sendiri lebih-lebih dari pada ritual-ritual di agama-agama yang lain.
Ritual yang hanya dianggap sebagai
perjalanan rohani itu telah dibangun selama berabad-abad lamanya. Sejak zaman
primitif sampai zaman modern seperti sekarang ini. Pekembangan zaman yang
tentunya juga merubah pola pikir masyarakatnya sama sekali tidak mempengaruhi
kepada kebulatan niat muslimin untuk melaksanakannya. Begitu juga dengan
berkemelutnya kondisi sosial seperti sekarang tetap tidak menjadi alasan bagi
mereka untuk mengurungkan niat melestarikan dan meneruskan ajaran rasul ini.[1]
Kalau kita lihat sepintas, ritual ini
memiliki keunikan tersendiri, yaitu dengan proses sangat rumit, penuh dengan
pengorbanan baik harta maupun jiwa. Tidak cukup itu saja, seorang yang
melaksanakan ritual haji, sepulangnya dari tanah suci dia akan mendapatkan
status yang tinggi yang tentunya memiliki konsekuensi moral cukup besar.
Ini memang sebuah permasalahan, tapi
lebih dari itu ada permasalahan yang labih besar lagi, yaitu untuk mencari
makna dan nilai yang lebih dalam lagi di balik pelaksanaan ritual tadi. Sebab,
yang jelas ritual sesakral itu tidak mungkin hanya merupakan perjalanan rohani
saja akan tetapi pasti mempunyai kontribusi terhadap kehidupan sosial. Inilah
yang akan dibuktikan secara ilmiah oleh William R. Roff dalam karya
ilmiahya “Haji Dan Sejarah Agama-Agama: Pendekatan Teoritis Terhadap Haji”.









