Monday, 21 September 2015

psikologi Agama pada anak

BAB I
PENDAHULUAN
Para ahli Psikologi dari mazhab psikoanalisis, behavioristis dan humanis sepakat bahwa  masa kanak-kanak sangatlah penting dan membawa pengaruh yang terbawa arus dalam struktur kepribadian manusia. Kemampuan belajar anak yang tinggi penting bagi agama. Terutama selama masa kanak-kanak awal, anak menerima dunia dimana mereka dilahirkan, seperti karet busa dilemparkan dalam air, dengan sukanya menyerap lingkungan yang ada disekitarnya. Keadaan anak yang mudah menyerap itu melahirkan pandangan bahwa arah hidup dengan kuat ditanamkan selama tahun-tahun awal. Watak dan kepribadian manusia masih dapat diubah sesudah tahun pertama, ketiga, ketujuh atau tahun-tahun yang dianggap magis lain. Kanak-kanak merupakan masa episode perubahan yang dramatis, masa kanak-kanak berada dalam gejolak badai dan ketenangan, rasa tertekan dan rasa siteguhkan kembali yang datang bergantian .        
Religiositas anak sangat mudah di pengaruhi oleh lingkungan sekitar, untuk itu peran yang ada disekitarnya sangatlah penting terutama peran kedua orang tua.














BAB II
PEMBAHASAN

ideas accepted on authority.
Semua pengetahuan yang dimiliki anak adalah datang dari luar dirinya, terutama dari orangtuanya. Semenjak lahir anak sudah terbentuk untuk mau menerima dan terbiasa mentaati apa yang disampaikan orangtua. Dampak yang muncul kemudian adalah timbulnya rasa senang dan rasa aman dalam diri anak. Maka nilai-nilai agama yang diberikan oleh orangtua atau orang dewasa pengganti orang tua dengan sendirinya akan terekam dan melekat pada anak. Dalam hal ini maka orangtua mempunyai otoritas yang kuat untuk membentuk religiositas anak.
Keyakinan dan praktik keagamaan (yang pada akhirnya mempengaruhi tingkat kematangan beragama seseorang) menurut Sigmund Freud berakar dari pengalaman universal di masa kanak-kanak. Pada usia dini, anak menganggap orang tua, terutama bapak adalah sosok mahatahu dan mahakuasa. Pemeliharaan yang penuh perlindungan dan kasih sayang yang dilakukan sosok berkuasa itu menentramkan anak. Kerinduan sosok bapak inilah yang disebut Freud merupakan akar setiap bentuk agama. Engan kata lain, Freud mengatakan agama hanya sekedar proyeksi ketakutan masa kecil.

A.    Usia Anak (6-12) tahun
Pada masa pengutan rasa agama ini, dalam perkembangan kognisi anak meliputi rasa curiousness yang tinggi, konkret, dogmatis, realistik, harfiah atau literal. Dan memasuki tahap realistic Stage dalam aspek rasa berTuhanya. Karakter-karakternya meliputi Egocentrik, pemahaman juga didasarkan pada kepentingan diri tentang pribadi tentang masalah keagamaan, anak mulai sadar akan  keberadaan dirinya. Antropormopic yakni Konsep mengenai keTuhananya berasal dari hasil indrawinya melalui pengalaman dikala ia berhubungan dengan orang lain yang mengambarkan aspek-aspek kemanusiaan, anggapan mereka bahwa segala sesuatu disamakan dengan Tuhan, jadi Tuhan adalah manusia.  Tugas Tuhan adalah menghukum orang yang berbuat jahat di tempat yang gelap dan surga adalah untuk orang-orang yang baik, yang terletak di langit. Karakteristik selanjutnya adalah Verbal dan ritualistic.  Perilaku anak berada pada wilayah lisan. Baik itu menyangkut ibadah maupun moralistic. Sekedar bersifat verbal dan ritual tidak ada keinginan untuk memahami maknanya. Anak melakukan apa yang dicontohkan oleh orang dewasa dan itu dilakukan secara berkelanjutan Jadi pendidikan agama perlu menekankan pembiasaan dan pembentukan minat untuk melakukan perilaku keagamaan. Ciri berikutnya adalah spontanous in some respect, muncul konsep masalah keagamaan dalam pikiran anak yang bersifat abstrak. Misalnya tentang surga, neraka , diamana Tuhan berada, dll. Selanjutnya adalah Wondering, dimana pada fase ini anak merasa mudah hrean terhadap segala sesuatu yang dianggap menakjubkan. Effecnya anak akan memiliki rasa kagum kepada Tuhanya. Materi yang selayaknya diberikan pada tahap ini misalnya pada pelajaran Sejarah ataupun yang lain, sang guru dapat mengintegrasikan dengan menyisipkan sejarah para nabi, aulia, khusus akan kehebatanya, misalkan mukjizat yang dimilikinya,  peristiwa-peristiwa yang penting, berkesan dan menarik serta edukatif. Denagn demikian rasa kagum sang anak akan seamkin bertambah dan akan menambah kecintaanya pada tokoh-tokoh islam kemudian guru melakukan klarifikasi nilai, dengan memetik dan menanamkan moral value-nya kepada sang anak. Adapun strategi yang digunakan adalah direct teaching, drill, rutinitas, dan disiplin. Dimensi rasa agamanya terletak pada Kowledge dan Emosi.
B.     Perkembangan Rasa Agama Usia Anak
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak melalui beberapa fase (tingkatan). Dalam bukunya The Development Of Religion On Children, ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak  itu melalui tiga tingktan, yaitu;

1.      The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng)
Tingkatan ini dimuali pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkatan anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Kehidupan masa kini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi, hingga dapat menggapai agama pun anak masih mengggunakan konsep fantastik yang diliputi oleh dongeng-dongeng.

2.      The Realistic Stage (tingkat kenyataan)
Tingkat ini sejak anak masuk Sekolah Dasar (SD) hingga ke usiaadolensen. Pada masa ini, ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realitas). Konsep ini timbul lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide keagamaan anak dapat didasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu, maka pada masa ini anak-anak tertarik dan senang pada lembaga yang mereka lihat dikelola oleh orang dewasa dalam ligkungan mereka. Segala bentuk tindakan (amal) keagamaan mereka ikuti dan pelajari dengan penuh minat.

3.      The Individual Stage (tingkat individu)
Pada tingkat ini anak mempunyai kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka, konsep keagamaan yang individualis ini terbagi menjadi tiga golongan, yaitu;
-           Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal terserbut disebabkan oleh pengaruh luar.
-          Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (peroranngan).
-          Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini setiap tingkatan dipengaruhi oleh faktor interen, yaitu perkembangan usia dan faktor eksteren berupa pengaruh luar yang dialaminya.[1]
Religiositas anak adalah hasil dari suatu proses perkembangan yang berkesinambungan dari lahir sampai menjelang remaja. Dalam proses tersebut berbagai faktor, interen, eksteren ikut berperan. Empat diantarannya yang akan dipaparkan dalam makalah ini, yaitu perkembangan kognisi, peran hubungan orang tua dengan anak, peranConscience, Guilt, Shame, serta Interaksi sosial.
-          Peran kognisi dalam perkembangan religiositas anak
      Konsep tentang nila-nilai keagamaan yang digunakan sebagai dasar pembentukan religiositas masuk ke dalam diri anak melalui kemampuan kognisi. Kognisi difahami sebagai kemampuan mengamati dan menyerap pengetahuan dan pengalaman dari luar diri individu. Perkembangan kognisi melewati beberapa fase yang masing-masing memiliki ciri yang berbeda. Pengetahuan dan pengalaman yang masuk pada diri individu akan hanya terserap sesuai dengan tingkat kemampuan kognisinya. Demikian juga pengetahuan dan pengalaman keagamanannya.
      Pada usia anak menurut Piaget perkembangan kognisi mengalami empat dari lima fase perkembangan berikiut ini yaitu:
1.      Period of sensorimotor adaptation, birth- 2 tahun
2.      Development of simbiolic and preconceptual thought, 2-4 tahun
3.      Period of intuitive thougth, 4-7 tahun
4.       Period of concreate operations, 7-12 tahun
5.      Period of formal operation, 12- thought adulescence.

-    Peran hubungan orang tua dengan anak dalam perkembangan religiositas anak
            Hubungan orang tua dengan anak memiliki peran yang sangat besar dalam proses peralihan nilai agama yang akan menjadi dasar-dasar nilai dari religiositas anak.[2] Melalui hubungan dengan orang tua anak menyerap konsep-konsep keimanan (belief & faith), ibadah (ritual), maupun mu’amalah (ethic & moral). Ada dua masalah penting yang ikut berperan dalam perkembangan religiositas anak melalui proses hubungan orang tua dan anak, yaitu cara orang tua dalam berhubungan dengan anaknya, serta kualitas dari religiositas orang tua.

-          Paran Conscience, Guilt dan Shame dalam perkembangan religiositas anak
        Conscience, Guilt dan Shame adalah tiga keadaan kejiwaan yang berkembang secara berurutan. Conscience adalah kemampuan yang muncul dari jiwa yang terdalam untuk mengerti tentang be nar dan salah, baik dan buruk. Dalam istilah lain dapat disamakan dengan istilah inner light, superhero, atau internalized policeman, yang berperan untuk mengontrol perilaku dari dalam diri. Guilt adalah perasaan bersalah yang muncul bila dirinya tidak berperilaku sesuai dengan kata hatinya, rasa bersalah juga dapat disebut evaluasi diri secara negative yang muncul ketika seseorang memahami bahwa perilakunya tidak sesuai dengan standard nilai yang dia rasa harus ditaati. Beriringan dengan itu kemudian muncul  Shame, yaitu reaksi emosi yang tidak menyenangkan terhadap perkiraan penilaian dari orang lain pada dirinya.

-          Peran interaksi sosial dalam perkembangan religiositas anak
            Interaksi sosial adalah kesempatan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah, yaitu dengan kelompok kawan sepermainan dan kawan sekolah. Interaksi sosial mempunyai peran penting dalam perkembangan religiositas anak melalui dua hal sebagai berikut: pertama, malalui interaksi sosial anak akan mengetahuai apakah perilakunya yang telah terbentuk berdasarkan standar nilai religiositas dalam keluarga dapat diterima atau ditolak oleh lingkungannya. Kedua, interaksi sosial akan menimbulkan motivasi bagi anak untuk hanya berperilaku sesuai dengan yang dapat diterima oleh lingkungannya.[3]

C.    Implikasi terhadap Pendidikan Agama Islam
Selanjutnya, untuk mengembangkan kemampuan intelektual anak, pendidikan sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pertanyaan, memberikan komentar atau pendapatnya tentang materi pelajaran , membuat karangan, menyusun laporan hasil diskusi atau hasil studi tour.
Pentingnya Hubungan Anak dengan Orang Tua 
            Peran orang tua sangat penting dalam mendidik anak secara Islam. Naungan keluarga dalam mendidik anak merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan menurut Rasulullah, fungsi dan peran orang tua utnuk membentuk arah keyakinan-keyakina anak-anak mereka. Setiap bayi yang dilahirkan sudah memiliki potensi untuk beragama namun bentuk keyakinan agama yang akan dianut anak sepenuhnya tergantung dari bimbingan pemeliharaan dan pengaruh kedua orang tuanya
Masa kanak-kanak merupakan periode yang dinamis secara psikologi bagi perkembangan religius. Anak-anak mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk meniru perlakuan orang dewasa, peniruan anak atas gagasan perbuatan orang dewasa berharga, tetapi pengalaman religius anak lebih penting dan bertahan lama terjadi pada tingkat yang lebih mendalam dan personal. Tetapi pada umumnya anak memasukkan kedalam pikiran, perasaan dan kehendaknya apa yang didengar dan dilihatnya sesuai dengan kemampuannya.
Hubungan orang tua dengan anak memiliki peran yang sangat besar dalam proses peralihan nilai agama yang akan menjadi dasar-dasar nilai dari religiositas anak.[4] Melalui hubungan dengan orang tua anak menyerap konsep-konsep keimanan (belief & faith), ibadah (ritual), maupun mu’amalah (ethic & moral). Ada dua masalah penting yang ikut berperan dalam perkembangan religiositas anak melalui proses hubungan orang tua dan anak, yaitu cara orang tua dalam berhubungan dengan anaknya, serta kualitas dari religiositas orang tua
Jadi bila melihat teori yang dipakai oleh sang pemakalah dalam penerapan nilai-nilai agama dalam diri seorang anak  harus lebih di tekankan kepada peran kedua orang tua. Orang tua harus lebih berperan dalam perkembangan rasa keberagaman, karena di dalam diri seorang anak mereka anak mentaati apa yang di perintahkan oleh kedua orang tuanya, dalam hal ini orang tua mempunyai otoritas dalam membentuk religiositas seorang anak. Dalam usia ini ketergantungan kepada kedua orang tua masih tinggi, jadi apa saja yang orang tua perintahkan atau yang ia bilang akan di ikuti oleh anak.






BAB III
PENUTUP
Kesimpulan.
Proses perkembangan religiositas pada tahap anak meliputi beberapa faktor yaitu The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng), The Realistikc Stage (tingkat kenyataan) danThe Individual Stage (tngkat individu). Dalam keseluruhan perkembangan religiositas, perkembangan pada usia anak mempunyai peran yang sangat penting karena dalam perkembangan tersebut keseluruhan dasar-dasar religiositas mulai terbentuk. Akan tetapi perhatian dan kesangguan pihak orang dewasa dalam memahami dan memecahkan permasalahan yang timbul berkaitan dengan perkembangan religiositas usia anak dirasa kurang dibandingkan dengan perhatian dan kesanggupannya terhadap perkembangan religiositas usia remaja dan dewasa.
Jadi bila melihat teori yang dipakai oleh sang pemakalah dalam penerapan nilai-nilai agama dalam diri seorang anak  harus lebih di tekankan kepada peran kedua orang tua. Orang tua harus lebih berperan dalam perkembangan rasa keberagaman, karena di dalam diri seorang anak mereka anak mentaati apa yang di perintahkan oleh kedua orang tuanya, dalam hal ini orang tua mempunyai otoritas dalam membentuk religiositas seorang anak. Dalam usia ini ketergantungan kepada kedua orang tua masih tinggi, jadi apa saja yang orang tua perintahkan atau yang ia bilang akan di ikuti oleh anak.










Daftar Pustaka:
-          Jalaluddin, Psikologi Agama,  (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007)
-          Hidayati, Wiji & Purnama, Sri, (2008) Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: TERAS
-          Makalah Ibu Susilaningsih.



[1]  Jalaluddin, Psikologi Agama…Hal 67

 [2] Clark, W.H, The Psychology Of  Religion…Hal 87
[3] Hurlock, E.B, Child Development, (New York: McGraw-Hiil Book Company, Inc, 1978), Hal 390

[4] Clark, W.H, The Psychology Of  Religion…Hal 87

0 comments:

Post a Comment