SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KHULAFA’URROSYIDIN DAN
REKONTRUKSINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah
Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu:
Dr. Karwadi, M.Ag.
Disusun Oleh:
Agus Sulistiyo Hadi (1320411203)
Moh. Mizan Habibi (1320411170)
KONSENTRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang Masalah
Pendidikan, sebagai sebuah proses pengembangan potensi manusia dalam segala
aspeknya, Sehingga Pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
hidup dan kehidupan manusia. Hubungan dua variable, antara manusia dengan
pendidikan diawali sebuah pertanyaan yang mendasar: “apakah manusia dapat di
didik?”. Ataukah manusia dapat tumbuh dan berkembang sendiri tanpa melalui
pendidikan? Lantas bagaimana cara mendidiknya? Dan seterusnya.
Pertanyaan diatas telah
lama menjadi bahan kajian para ahli pendidikan, bahkan sejak zaman Yunani kuno.
Pendapat yang umum dikenal dalam pendidikan barat mengenai mungkin dan tidaknya
manusia dididik, sehingga melahirkan tiga aliran filsafat pendidikan; nativisme,
empirisme dankonvergensi.[1]
Ketika membahas tentang pendidikan tentunya tidak terlepas dari
komponen-komponen penting yang saling berkaitan. Mulai dari landasan dan tujuan
pendidikan, Pendidik dan peserta didik, kurikulum, metode dan strategi yang digunakan
diharuskan memiliki kriteria yang jelas,
agar arah dari pendidikan tersebut jelas dan bisa dievaluasi. Dengan pendidikan
diharapkan dapat menghasilkan manusia yang berkualitas dan bertanggung jawab
serta mampu mengantisipasi masa depan.[2]
Terlepas
dari paradigma pendidikan itu sendiri, pada masa Nabi, Negara Islam meliputi
seluruh jazirah Arab dan pendidikan Islam berpusat di Madinah, setelah
Rasulullah wafat kekuasaan pemerintahan Islam dipegang oleh Khulafaurrasyidin
dan wilayah Islam telah meluas di luar jazirah Arab. Para khalifah ini bukan
hanya memperhatikan aspek pendidikan, namun juga syiar agama dengan perluasan
ekspansi militer, demi kokohnya Negara Islam.
Untuk itu
tema makalah ini layak untuk dibahas, karena sebagai khasanah pengembangan
pendidikan islam di Indonesia yang diadopsi dari Pendidikan Islam pada masa
Khulafaurrasyidin.
B. Rumusan
Masalah
a.
Bagaimana pola Pendidikan Islam pada
masa Khulafaurrasyidin?
b.
Rekontruksi Pendidikan Islam pada
Masa Khulafaurrasyidin untuk Pendidikan Islam di Indonesia masa sekarang?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pola Pendidikan Islam Pada Masa
Khulafaurrasyidin
1.
Masa Abu Bakar al-Shiddiq (632-634
M)
a.
Sosial Masyarakat
Masa kepemimpinan Abu Bakar
terhitung sangat singkat, hanya dua tahun. Masa sesingkat itu habis untuk
menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama yang ditimbulkan oleh suku-suku
bangsa arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah di kota Madinah. Mereka
menganggap, bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad dengan sendirinya
batal setelah Nabi wafat. Oleh karena itu, mereka menentang pemerintahan Abu
Bakar. Dikarenakan sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat
membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini
dengan apa yang disebut perang Riddah (perang melawan kemurtadan).[3]
b.
Pola Pendidikan
Dilihat dari sosial masyarakat yang
pada saat itu tidak semua berpihak pada pemerintahan, dengan alasan diatas, Abu
Bakar fokus untuk menangani pemberontakan orang-orang murtad, pengaku nabi dan
pembangkan zakat. Hal ini menyebabkan pendidikan dimasa ini tidak banyak
mengalami perubahan sejak masa Rasulullah SAW. Yakni berkisar pada materi
pendidikan seputar tauhid, akhlak, ibadah, kesehatan.[4]
1. Pendidikan keimanan (Tauhid) yaitu menanamkan bahwa satu-satunya
yang wajib disembah adalah Allah.
2. Pendidikan Akhlak, seperti adab masuk rumah orang lain, sopan santun
bertetangga, bergaul dalam masyarakat dan lain sebagainya.
3. Pendidikan Ibadah, seperti pelaksanaan sholat, puasa dan haji.
4. Kesehatan, seperti kebersihan, gerak gerik dalam shalat merupakan didikan
untuk memperkuat jasmani dan rohani.[5]
Mengenai bentuk lembaga pendidikan pada masa ini,
Ahmad Syalabi menegaskan lembaga untuk belajar membaca dan menulis pada saat
itu disebut dengan Kuttab.
Disamping itu masjid juga berfungsi sebagai tempat
belajar, ibadah, dan musyawarah. Khusus Kuttab, merupakan pendidikan
yang di bentuk setelah masjid.
Selanjutnya dalam pendapat yang lain mengatakan bahwa kuttab
didirikan oleh orang-orang arab pada masa Abu Bakar. Sedangkan pusat
pembelajaran pada masa ini adalah kota Madinah, dan yang bertindak sebagai
tenaga pendidik adalah para sahabat Rasulullah SAW. yang terdekat.[6]
2. Masa Umar bin Khatthab (634-644 M)
a. Sosial Masyarakat
Sebelum Abu Bakar
wafat, beliau telah menyaksikan persoalan yang timbul di kalangan kaum muslimin
sejak Rasul wafat, berdasarkan hal inilah Abu Bakar menunjuk penggantinya yaitu
Umar bin Khattab, yang tujuannya adalah untuk mencegah supaya tidak terjadi
perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijakan Abu Bakar
tersebut ternyata diterima masyarakat.[7]
Masa pemerintahan Umar
bin Khatthab sekitar 10 tahun ini, mengalami perluasan wilayah kekuasaan. Yang
mana Madinah sebagai pusat pemerintahan. Dengan meluasnya wilayah Islam
mengakibatkan meluas pula kehidupan dalam segala bidang. Untuk memenuhi
kebutuhan ini diperlukan manusia yang memiliki ketrampilan dan keahlian,
sehingga dalam hal ini diperlukan pendidikan.
Pada masa khalifah Umar
bin Khattab, sahabat-sahabat yang sangat berpengaruh tidak diperlukan untuk keluar daerah kecuali
atas izin dari khalifah dan dalam waktu yang terbatas. Jadi, kalau ada diantara
umat Islam yang ingin belajar harus pergi ke Madinah, ini berarti bahwa
penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabat dan tempat pendidikan terpusat di
Madinah.[8]
b. Pola Pendidikan
Pada masa Khalifah Umar
bin Khattab, pendidikan juga tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya, Pola
penddidikan dimasa ini mengalami perkembangan. Khalifah saat itu sering
mengadakan penyuluhan (pendidikan) di kota Madinah. Beliau juga menerapkan
pendidikan di Masjid-masjid dan mengangkat guru dari sahabat-sahabat untuk
tiap-tiap daerah yang ditaklukkan. Mereka bukan hanya bertugas mengajarkan
al-Quran, akan tetapi juga dibidang Fiqih. Adapun tenaga pengajar sebagian
besar adalah para sahabat yang senior, antara lain Abdurrahman bin Ma’qal dan
Imran bin al-Hasyim (di Bashrah), Abdurrahman bin Ghanam (di Syiria), Hasan bin
Abi Jabalah (di Mesir).[9] Adapun
mata pelajaran yang diberikan meliputi membaca dan menulis al-Qur’an dan
menghafalkannya serta belajar pokok-pokok agama Islam. Namun Pendidikan pada
masa Umar bin Khattab lebih maju daripada dengan sebelumnya. Pada masa ini tuntutan
untuk belajar bahasa Arab juga sudah mulai nampak, orang yang baru masuk Islam
dari daerah yang ditaklukan harus belajar dan memahami pengetahuan Islam. Oleh
karena itu, pada masa ini sudah terdapat pengajaran bahasa Arab.
Berdasarkan hal di
atas, pelaksanaan pendidikan di masa Khalifah Umar bin Khattab lebih maju,
sebab selama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini
disebabkan di samping telah diterapkannya masjid sebagai pusat pendidikan, juga
telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan materi
yang dikembangkan, baik dari ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu–ilmu lainnya.
Pendidikan dikelola di bawah pengaturan Gubernur yang berkuasa saat itu, serta
diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian,
baitulmal, dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik pada waktu itu
diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitulmal.[10]
3. Masa Utsman bin ‘Affan (644-656 M)
a. Sosial Masyarakat
Masa pemerintahan
Utsman yang berlangung kurang lebih 11 tahun, masa yang lumayan lama ini
stabilitas politik mulai memanas, hal ini disebabkan terjadinya fitnah
dikalangan masyarakat. Salah satunya terdapat beberapa wilayah yang hendak
melepaskan diri dari pemerintahan Ustman bin Affan, yang disebabkan dendam lama
sebelum ditaklukkan Islam. Daerah tersebut adalah Khurasan dan Iskandariah. Selain itu ada dua
hal yang menyebabkan rasa kebencian kepada Khalifah semakin memuncak, yaitu
kelemahan Utsman dan sikap Nepotisme. Utsman memang memiliki perangai yang
berbeda dengan Khalifah sebelumnya. Jika umar dengan ketegasannya menimbulkan
wibawa dan disegani oleh masyarakat, berbeda dengan Utsman yang bersikap lemah
lembut. Sedangkan sikap Nepotismenya diwujudkan dalam bentuk pemerintahan.
Pasalnya, pada masa ini banyak gubernur-gubernur yang dilepas jabatannya, dan
digantikan dengan kerabatnya sendiri. Antara lain Mughirah bin Syu’bah gubernur
Kufah digantikan Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Musa al-‘Asy’ari gubernur Bashrah
digantikan Abdullah bin ‘Amir bin Kariz, ‘Amr bin ‘Ash gubernur Mesir
digantikan abdullah bin Sa’d bin Abi Sarah.[11]
Saif bin Umar mengatakan, bahwa
sebab terjadinya pemberontakan beberapa kelompok menentang pemerintah adalah
disebabkan seorang yahudi bernama Abdullah bin Saba’ yang berpura-pura masuk
Islam dan pergi kedaerah Mesir untuk menyebarkan idenya tersebut dibeberapa
kalangan masyarakat. Maka mulailah masyarakat mengingkari kepemimpinan Ustman
Bin Affan serta mencelanya.
b. Pola Pendidikan
Pola pendidikan tidak
jauh berbeda dengan pola pendidikan yang diterapkan pada masa Umar. Hanya saja
pada periode ini, para sahabat yang asalnya dilarang untuk keluar dari kota Madinah
kecuali mendapatkan izin dari Khalifah, mereka diperkenankan untuk keluar dan mentap di daerah-daerah yang
mereka sukai. Dengan kebijakan ini, maka orang yang menuntut ilmu (para peserta
didik) tidak merasa kesulitan untuk belajar ke Madinah.[12]
Khalifah Utsman bin
Affan sudah merasa cukup dengan pendidikan yang sudah berjalan, namun begitu
ada satu usaha yang cemerlang yang telah terjadi di masa ini yang disumbangkan
untuk umat Islam, dan sangat berpengaruh luar biasa bagi pendidikan Islam,
yaitu untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat al-Qur’an. Penyalinan ini terjadi
karena perselisiahn dalam bacaan al-Qur’an. Berdasarkan hal tersebut, khalifah
Usman memerintahkan kepada tim yang dimpimpin Zaid bin Tsabit, Abdullah bin
Zubair, Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harist.[13]
Bila terjadi pertikaian
bacaan, maka harus diambil pedoman kepada dialek suku Quraisy, sebab al-Qur’an
ini diturunkan dengan lisan Quraisy. Zaid bin Tsabit bukan orang Quraisy,
sedangkan ketiganya adalah orang Quraisy.
Tugas mendidik dan
mengajar umat pada masa Utsman bin Affan diserahkan pada umat itu sendiri,
artinya pemerintah tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian para pendidik
sendiri melaksanakan tugasnya hanya dengan mengharap keridhaan Allah.
4. Masa Ali bin Abi Thalib (656-611 M)
a. Sosial Masyarakat
Beberapa hari setelah
pembunuhan Ustman bin Affan, stabilitas keamanan kota madinah menjadi rawan.
Gafqy bin Harb memegang keamanan ibukota Islam itu selama kira-kira lima hari
sampai terpilihnya Khalifah yang baru. Kemudian Ali bin Abi Thalib tampil
menggantikan Ustman bin Affan, dengan menerima baiat dari sejumlah kaum
muslimin.[14]
Pada masa
pemerintahan Ali yang hanya sekitar enam
tahun itu, terjadi kekacauan politik dan pemberontakan, salah satunya
disebabkan kebijakan Khalifah yang memecat gubernur-gubernur yang diangkat oleh
khalifah sebelumnya (Ustman bin Affan). Seperti Ibnu Amir Gubernur Bashrah
Ustman bin Hanif, Abdullah Gubernur Mesir diganti Qais bin Sa’ad, tak
terkecuali Mu’awiyah bin Abi Sufyan Gubernur Damaskus, diminta untuk meletakkan
jabatannya, namun menolak dan bahkan tidak mau mengakui kekhalifahan Ali bin
Abi Thalib.
Selain itu, beliau juga
mengeluarkan kebijakan baru dengan menarik hasil tanah yang sebelumnya telah
hadiahkan oleh utsman kepada penduduk. Tidak lama setelah itu, terjadi
kesalah-pahaman diantara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah binti Abu Bakar,
Thalhah dan Zubair. Mereka berselisih mengenai penyelesaian kasus pembunuhan
Ustman bin Affan. Hal ini mengakitbatkan pergolakan politik hingga terjadinya
peperangan yang dikenal dengan peran Jamal yang dimenangi dari kubu Ali
bin Abi Thalib. Selain itu, pada masa
ini terjadi perang shiffin. Yaitu peperangan antara Ali bin Abi Thalib
dengan Mu’awiyah bin Abi Sufwan, gubernur Damaskus. Yang berakhir dengan Tahkim
sebagai akibat timbulnya golongan pembenci Ali bin Abi Thalib yang dikenal
dengan Khawarij.
b. Pola Pendidikan
Masa enam tahun dengan
situasi pemerintahan yang tidak stabil ini, dapat disimpulkan bahwa pendidikan
pada masa ini mendapat hambatan, dikarenakan
Khalifah sendiri tidak sempat untuk memikirkannya. Dan itu berarti pola
pendidikannya tidak jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya.[15]
B. Pusat dan Sistem Pendidikan
Secara umum pusat Pendidikan Islam pada Masa Khulafau Rasyidin terbagi dibeberapa
wliayah antara lain:
1. Mekkah. Guru pertama di Makkah adalah Muadz bin Jabal yang mengajarkan Al-Qur’an
dan Hadist.
2. Madinah. Sahabat yang terkenal antara lain: Abu bakar, Usman bin Affan, Ali
bin Abi Thalib, dan sahabat-sahabat lainnya.
3. Bashrah. Sahabat yang termasyhur antara lain: Abu Musa al-Asy’ari, dia
adalah seorang ahli fikih dan al-Qur’an.
4. Kuffah. Sahabat-sahabat yang termasyhur adalah Ali bin Abi Thalib dan
Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Mas’ud mengjarkan Al-Qur’an, tafsir, hadist,
dan fikih.
5. Damsyik (Syam). Setelah Syam menjadi bagian Negara Islam dan penduduknya
banyak beragama Islam. Maka Khalifah Umar mengirim tiga orang guru ke negara
itu. Yang dikirin adalah Muaz bin Jabal, Ubaidah, dan Abu Darda’. Ketiga
sahabat itu mengajar di Syam pada tempat yang berbeda. Abu Darda’ di Damsyik,
Muaz bin Jabal di Palestina, Ubaidah di Hims.
6. Mesir. Sahabat yang mula-mula mendirikan madrasah dan menjadi guru di Mesir
adalah Abdullah bin Amru bin Ash, ia adalah seorang ahli hadist.[16]
Sedangkan Sistem pendidikan Islam secara umum pada
masa Khulafaurrasyidin dilakukan secara mandiri, tidak dikelola oleh pemerintah,
kecuali pada masa Khalifah Umar bin Khattab yang turut campur dalam menambahkan
materi kurikulum pada lembaga Kuttab. Materi pendidikan Islam yang diajarkan
pada masa khalifah al-Rasyidin sebelum masa Umar bin Khattab, untuk pendidikan
dasar:[17]
1. Membaca dan menulis
2. Membaca dan menghafal Al-Qur’an
3. Pokok-pokok agama Islam, seperti cara wudhu, shalat, shaum dan sebagainya.
Ketika Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah, ia
menginstruksikan kepada penduduk kota agar anak-anak diajari:
1. Berenang
2. Mengendarai unta
3. Memanah
Sedangkan materi pendidikan pada tingkat menengah dan tinggi terdiri dari:
1. Al-qur’an dan tafsirnya.
2. Hadits dan pengumpulannya.
3. Fiqh (tasyri’).
Pusat dan sistem pendidikan ini terus berlanjut sampai
pada Khalifah terakhir Ali bin Abi Thalib.
C. Rekontruksi pendidikan pada masa Khulafa’urrayidin
dengan pendidikan di Indonesia
Meskipun pendidikan pada masa Khulafa’urrasyidin terbilang belum begitu
terprogram dan terstruktur, namun sebagai cikal bakal pendidikan khususnya
pendidikan Islam patut untuk di apresiasi. Setelah dipelajari secara seksama
mengenai pendidikan pada masa khulafa’urrasyidin maka dapat diambil beberapa
hal yang menarik dan bisa dijadikan sebagai bahan rekontruksi bagi pendidikan
Islam di masa sekarang ataupun di Indonesia, diantaranya adalah:
1. Selalu berupaya dalam menerapkan pendidikan Tauhid, akhlak, dan ibadah,
karena pendidikan tersebut merupakan dasar ataupun pokok dari ajaran agama
islam. Meskipun dalam pendidikan di Indonesia sudah terkandung materi-materi
tentang hal tersebut di atas, namun terkadang peserta didik ataupun pendidik
hanya faham pada konsep-konsepnya saja tanpa menghayati dan menerapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Untuk itu seharusnya seorang pendidik dan peserta didik
dalam mempelajari materi-materi di atas harus benar-benar dapat menjadi kristal
di dalam hati masing-masing.
[1] Jalaluddin, Teologi
Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), hal. 67.
[3]Badri Yatim,
M.A, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008),
hal. 36.
[4]Syamsul Nizar, Sejarah
Pendidikan Islam, (Jakarta; Prenada Media, 2008), hal. 45.
[5]Mahmud Yunus, Sejarah
Pendidikan Islam, (Jakarta
:Hidayakarya Agung, 1989), hal. 18.
[6]Ahmad Sjalaby, Sedjarah
Pendididikan Islam, (Djakarta: Bulan Bintang), hal. 33.
[7]Badri Yatim,
M.A, Sejarah Peradaban Islam,...hal. 37.
[8]Sukarno dan
Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Islam, (Bandung: Angkasa, 1983), hal. 51.
[9]Syamsul Nizar, Sejarah
Pendidikan ... hal. 47.
[10]http://itarizki.blogspot.com/2011/04/pendidikan-masa-khulafaur-rasyidin.html
diakses tanggal 30 september 2013
[11]Mahmud Syakir, al-Tarikh
al-Islamy; al-Khulafau al-Rasyidun Vol. III, (Bairut: al-Maktab al-Islami,
2000), hal. 233.
[12]Syamsul Nizar, Sejarah
Pendidikan ... hal. 49.
[13]Samsul Munir
Amin M.A., Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), hal. 105.
[15]Syamsul Nizar,Sejarah
Pendidikan ... hal. 50.
[16]http://elangjawa-hidup.blogspot.com/2010/12/makalah-spi-pengembangan-pendidikan.html
diakses tannggal 30 September 2013
[17]http://astriyaniwinda.blogspot.com/2012/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
diakses tanggal 30 September 2013.







0 comments:
Post a Comment