Monday, 14 September 2015

Pesantren dan Budaya Jawa “Keraton”


Istilah pesantren pasti sudah tidak asing lagi terdengar di telinga, pesantren yang berasal dari kata pe-santri-an yaitu berasal dari bahasa jawa yang artinya adalah tempat para santri, lebih tepatnya yaitu tempat para santri untuk belajar ilmu agama dibawah asuhan seorang kyai.


Pesantren merupakan lembaga pendidikan khas yang dimiliki oleh bangsa indonesia, terutama masyarakat jawa, hal tersebut dikarenakan pesantren yang pada awalnya bernama padhepokan adalah salah satu peninggalan kebudayaan Hindu-budha yang sempat berjaya dinusantara. Setelah para wali datang ke nusantara dengan misi untuk menyebarkan ajaran islam, salah satu cara atau metode dakwah yang digunakan oleh para wali adalah dengan menggunakan budaya ataupun seni yang berasal dari jawa itu sendiri. Seperti yang telah diketahui  banyak sekali budaya-budaya jawa yang melekat dalam ritual-ritual ibadah di dalam islam khususnya dalam masyarakat jawa, misalnya istilah tahlilan, slametan, 3,7,40,100 hari ketika orang meninggal dunia, semua itu merupakan budaya jawa yang diakulturasi oleh islam dengan cara mengganti amalan yang ada didalamnya dengan nilai-nilai islam. Jika ditelusuri lebih dalam lagi, masih banyak ritual-ritual ibadah dalam islam yang bercirikan dengan budaya jawa.
Didalam dunia pesantren sendiri istilah-istilah yang digunakan juga banyak yang mengadopsi dari istilah-istilah jawa, terlebih pesantren-pesantren yang masih menganut metode belajar klasik (pesantren salafi). Hal tersebut terjadi karena pesantren yang pada dasarnya adalah salah satu bentuk budaya pada zaman hindu-budha pada waktu itu dikenal dengan istilah “padhepokan”. Jika ditarik lebih sempit, budaya pesantren selain berhubungan dengan budaya-budaya masyarakat jawa juga berhunbungan dengan budaya-budaya keraton, khususnya keraton mataram (yogyakarta), hal tersebut karena ada yang menyebutkan bahwasannya pusat kebudayaan jawa terdapat di kerajaan mataram. Mungkin itulah yang mendasari mengapa budaya yang ada dipesantren juga berkaitan dengan budaya masyarakat jawa, khususnya keraton.
Oleh sebab itu menurut penulis budaya pesantren dijawa sangat berkaitan dengan budaya jawa. Sekarang akan dipaparkan istilah ataupun budaya yang menurut penulis ada kaitannya dengan budaya keraton, pertama, abdi nDalem, istilah ini sangat kental dengan budaya yang terdapat dikeraton, istilah abdi nDalem adalah orang yang mengabdi kepada Raja kerajaan “keraton”, istilah abdi nDalem selain dikenal di masyarakat keraton juga dikenal didalam dunia pesantren istilah abdi nDalem didunia pesantren adalah orang yang mengabdikan dirinya kepada seorang Kyai atau pemilik pondok. Kedua, kata santri itu sendiri serupakan kata serapan dari bahasa sangsekerta atau jawa, yaitu “Cantrik”, yang artinya adalah orang selalu mengikuti guru. Ketiga, sorogan, didunia pesantren pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah tersebut, istilah sorogan juga diambil dari bahasa jawa yaitu “Sorog” yang artinya menyodorkan kitabnya kepada seorang pendidik (kyai). Keempat, Gus dan Ning, istilah tersebut merupakan julukan yang diberikan kepada putra-putri seorang Kyai, Gus yang kata asalnya adalah “Bagus” diambil dari bahasa jawa yang berati baik, baik dari akhlaknya ilmunya dan lain sebaginya, sedangkan istilah ning dalam bahasa jawa biasanya digunakan untuk memanggil anak perempuan yang masih belum menikah “gadis”.
Selain istilah-istilah yang terdapat di dunia pesantren tersebut masih ada budaya atau lebih tepatnya adalah akhlak atau sikap ta’dim seorang santri kepada Kyai yang berhubungan dengan budaya jawa khususnya keraton. Sudah diketahui bersama didalam dunia pesantren ada istilah “cucup tangan” istilah ini lebih dikenal dipesantren-pesantren yang sistem pendidikannya menganut sistem pendidikan klasik atau pesantren salaf, cucup tangan didunia pesantren adalah salah satu sikap ta’dim seorang santri terhadap Kyai dengan harapan ilmu yang diperoleh dari Kyai akan berkah dan manfaat. Sebenarnya budaya cucup tangan ini menurut penulis adalah akulturasi budaya yang ada di masyarakat keraton, masyarakat keraton khususnya abdi nDalem, begitu patuh terhadap apa yang disampaikan oleh seorang Raja, sampai-sampai ketika bersalaman dengan Raja mereka mencium tangan raja tersebut.
Pesantren yang merupakan sistem pendidikan bercirikhas keindonesiaan dan memiliki khas kejawaan pastinya akan membawa sifat kejawaannya tersebut, baik dalam sisi istilah maupun budaya yang ada di dalam pesantren tersebut. Orang sunda pasti akan membawa sifat kesundaannya, orang batak akan membawa sifat kebatakkannya, serta orang jawa juga membawa jewaannya tersebut. Begitu juga dengan pesantren yang berada di tanah jawa pastinya akan membawa budaya yang ada ditanah jawa tersebut.


0 comments:

Post a Comment