Istilah pesantren pasti sudah tidak asing
lagi terdengar di telinga, pesantren yang berasal dari kata pe-santri-an yaitu berasal
dari bahasa jawa yang artinya adalah tempat para santri, lebih tepatnya yaitu
tempat para santri untuk belajar ilmu agama dibawah asuhan seorang kyai.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan khas
yang dimiliki oleh bangsa indonesia, terutama masyarakat jawa, hal tersebut dikarenakan
pesantren yang pada awalnya bernama padhepokan adalah salah satu peninggalan
kebudayaan Hindu-budha yang sempat berjaya dinusantara. Setelah para wali datang
ke nusantara dengan misi untuk menyebarkan ajaran islam, salah satu cara atau
metode dakwah yang digunakan oleh para wali adalah dengan menggunakan budaya
ataupun seni yang berasal dari jawa itu sendiri. Seperti yang telah diketahui banyak sekali budaya-budaya jawa yang melekat
dalam ritual-ritual ibadah di dalam islam khususnya dalam masyarakat jawa,
misalnya istilah tahlilan, slametan, 3,7,40,100 hari ketika orang meninggal
dunia, semua itu merupakan budaya jawa yang diakulturasi oleh islam dengan cara
mengganti amalan yang ada didalamnya dengan nilai-nilai islam. Jika ditelusuri
lebih dalam lagi, masih banyak ritual-ritual ibadah dalam islam yang bercirikan
dengan budaya jawa.
Didalam dunia pesantren sendiri
istilah-istilah yang digunakan juga banyak yang mengadopsi dari istilah-istilah
jawa, terlebih pesantren-pesantren yang masih menganut metode belajar klasik
(pesantren salafi). Hal tersebut terjadi karena pesantren yang pada dasarnya
adalah salah satu bentuk budaya pada zaman hindu-budha pada waktu itu dikenal
dengan istilah “padhepokan”. Jika ditarik lebih sempit, budaya pesantren selain
berhubungan dengan budaya-budaya masyarakat jawa juga berhunbungan dengan
budaya-budaya keraton, khususnya keraton mataram (yogyakarta), hal tersebut
karena ada yang menyebutkan bahwasannya pusat kebudayaan jawa terdapat di
kerajaan mataram. Mungkin itulah yang mendasari mengapa budaya yang ada
dipesantren juga berkaitan dengan budaya masyarakat jawa, khususnya keraton.
Oleh sebab itu menurut penulis budaya
pesantren dijawa sangat berkaitan dengan budaya jawa. Sekarang akan dipaparkan istilah
ataupun budaya yang menurut penulis ada kaitannya dengan budaya keraton, pertama,
abdi nDalem, istilah ini sangat kental dengan budaya yang terdapat dikeraton,
istilah abdi nDalem adalah orang yang mengabdi kepada Raja kerajaan “keraton”,
istilah abdi nDalem selain dikenal di masyarakat keraton juga dikenal didalam
dunia pesantren istilah abdi nDalem didunia pesantren adalah orang yang
mengabdikan dirinya kepada seorang Kyai atau pemilik pondok. Kedua, kata
santri itu sendiri serupakan kata serapan dari bahasa sangsekerta atau jawa,
yaitu “Cantrik”, yang artinya adalah orang selalu mengikuti guru. Ketiga,
sorogan, didunia pesantren pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah
tersebut, istilah sorogan juga diambil dari bahasa jawa yaitu “Sorog” yang
artinya menyodorkan kitabnya kepada seorang pendidik (kyai). Keempat,
Gus dan Ning, istilah tersebut merupakan julukan yang diberikan kepada
putra-putri seorang Kyai, Gus yang kata asalnya adalah “Bagus” diambil dari
bahasa jawa yang berati baik, baik dari akhlaknya ilmunya dan lain sebaginya,
sedangkan istilah ning dalam bahasa jawa biasanya digunakan untuk memanggil
anak perempuan yang masih belum menikah “gadis”.
Selain istilah-istilah yang terdapat di dunia
pesantren tersebut masih ada budaya atau lebih tepatnya adalah akhlak atau
sikap ta’dim seorang santri kepada Kyai yang berhubungan dengan budaya jawa
khususnya keraton. Sudah diketahui bersama didalam dunia pesantren ada istilah
“cucup tangan” istilah ini lebih dikenal dipesantren-pesantren yang sistem
pendidikannya menganut sistem pendidikan klasik atau pesantren salaf, cucup
tangan didunia pesantren adalah salah satu sikap ta’dim seorang santri terhadap
Kyai dengan harapan ilmu yang diperoleh dari Kyai akan berkah dan manfaat.
Sebenarnya budaya cucup tangan ini menurut penulis adalah akulturasi budaya
yang ada di masyarakat keraton, masyarakat keraton khususnya abdi nDalem,
begitu patuh terhadap apa yang disampaikan oleh seorang Raja, sampai-sampai ketika
bersalaman dengan Raja mereka mencium tangan raja tersebut.
Pesantren yang merupakan sistem pendidikan
bercirikhas keindonesiaan dan memiliki khas kejawaan pastinya akan membawa
sifat kejawaannya tersebut, baik dalam sisi istilah maupun budaya yang ada di
dalam pesantren tersebut. Orang sunda pasti akan membawa sifat kesundaannya,
orang batak akan membawa sifat kebatakkannya, serta orang jawa juga membawa
jewaannya tersebut. Begitu juga dengan pesantren yang berada di tanah jawa
pastinya akan membawa budaya yang ada ditanah jawa tersebut.






0 comments:
Post a Comment