Friday, 18 September 2015

sejarah pendidikan islam (bani saljuq)


Pendidikan Era Dinasti Saljuq
I.     Pemetaan Masalah
Pendidikan merupakan sesuatu yang penting bagi manusia dalam kehidupan ini. Dimana merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan adanya pendidikan akan membantu menciptakan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang baik dan unggul. Salah satu pihak yang bertanggungjawab atas pelaksanaan pendidikan adalah pemerintah. Hal tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 yang berbunyi “wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh Warga Negara indonesia atas tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah”. Namun, sudah terwujudkah UU RI tersebut pada pendidikan di Negeri kita?
Indonesia merupakan negara yang tertinggal terutama dalam hal pendidikan. Dimana pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Banyak pasal yang mengatur mengenai kewajiban serta hak untuk menempuh pendidikan. Namun, hal tersebut belum mampu membuat Indonesia mancapai keberhasilan dalam pendidikan. Banyak kendala yang harus dihadapi untuk mencapai keberhasilan pendidikan.
Beberapa faktor yang menjadi kendala belum berhasilnya pendidikan di Indonesia antara lain, kurangnya sarana dan prasarana, kurangnya guru profesional, gedung-gedung sekolah yang tidak layak pakai, dan yang paling miris adalah belum meratanya ketersediaan sekolah di suatu daerah. Sebagai contoh, dua desa di kecamatan Sipohon, Tapanuli utara hingga kini belum memiliki sekolah. untuk mengecap pendidikan, warga di kedua desa itu terpaksa pindah ke desa-desa tetangga yang memiliki sekolah. Selama ini, mereka menyekolahkan anak-anaknya mulai SD hingga SMA ke daerah lain yang memiliki sekolah. Untuk sampai ke sekolahnya, siswa harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 6 km. Dengan keadaan jalan yang tidak layak, becek dan rusak.[1]
Hal tersebut membuktikan bahwa, pendidikan di Indonesia belum merata. Salah satu penyebab belum meratanya pendidikan di Indonesia adalah kurangnya perhatian pemerintah terhadap keberadaan pendidikan itu sendiri. Pemerintah seakan-akan lebih mengutamakan pembangunan pada sektor lain. Pemerintah mengeluarkan banyak dana untuk membangun gedung-gedung pemerintahan yang megah, padahal disatu sisi pendidikan sangat membutuhkan perhatian mereka.
Faktor lain yang menjadi penghambat keberhasilan pelaksanaan pendidikan adalah masalah biaya. Banyak orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anaknya, karena faktor biaya. Hal ini mengingat bahwa biaya pendidikan di Indonesia kian hari kian mahal, sehingga mereka lebih baik menyuruh anak-anak mereka pergi bekerja daripada pergi menuntut ilmu. Dari sinilah penulis akan sedikit menulis tentang pendidikan pada masa Dinasti Saljug dan rekonstruksi pendidikan di Indonesia.

II.         Sejarah dan Pendidikan pada Masa Dinasti Saljuq
Pemerintahan dinasti saljuq merupakan rangkaian sejarah kekhalifahan Abbasiyah. Dalam catatan sejarah, periode saljuq ini merupakan periode kedua dari kekhalifahan Abbasiyah. Dinasti saljuq meraih tampuk kekuasaan di lingkungan kekhalifahan Abbasiyah setelah menumbangkan kekuasaan dinasti Buwaihi dan kekuasaannya berlangsung selama kira-kira dua abad.[2] Dinasti Saljug didirikan oleh Tughri Beg, yang bertahan memerintah wilayah kekuasaannya selama sekitar dua abad. Keberhasilan Bani Saljug dalam mempertahankan kekuasaannya, tidak lepas dari para pemerintah yang senantiasa patuh terhadap sultan serta kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan.
Institusi Pendidikan pada Masa Dinasti Saljuq
Salah satu jenis lembaga pendidikan yang muncul pada abad ini adalah madrasah. Sebelum mengenal adanya madrasah, orang islam telah mengenal beberapa institusi pendidikan diantaranya adalah masjid, kuttab, toko buku, rumah dan sebagainya. Madrasah pertama kali dikenal di dunia islam pada masa Dinasti Saljuq ini. Pendirinya adalah salah seorang wazir dari Dinasti Saljuq, yaitu Nizam Al-Mulk. Nizam mendirikan madrasah yang diberi nama Nidzamiyah di Baghdad. Selain itu, beliau juga mendirikan madrasah di daerah-daerah lain. Sehingga Nizam Al-Mulk ini memiliki madrasah disetiap kota Irak dan khurasan. Tidak satupun negeri yang tidak didirikan madrasah oleh Nizam, sehingga daerah yang terpencil pun juga didirikan madrasah yang besar dan bagus. Nizam mendirikan gedung-gedung ilmiah untuk ahli fikih, membangun madrasah-madrasah untuk para ulama dan asrama untuk orang beribadah serta fakir miskin.[3]
Dinasti Saljuq memiliki kekuasaan yang sangat luas. Masyarakatnya yang berada di wilayahnya tentu jumlahnya banyak pula. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda, agama, suku bangsa, sosial, dan budaya.[4] Walaupun berbeda-beda, namun mereka tetap rakyat yang menetap di wilayah kekuasaan Dinasti Saljuq sehingga harus tetap dipenuhi kebutuhannya termasuk kebutuhan pendidikan di dalamnya. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat  terhadap pendidikan yang semakin luas, maka di dirikanlah madrasah Nizamiyah oleh nizam al-mulk.
Pendirian madrasah Nizamiyah tersebut selain merupakan akibat dari motif pendidikan, juga mengandung motif politik di dalamnya. Dinasti Buwaihi yang menguasai kekhalifahan Abbasiyah waktu itu dan dapat dikalahkan oleh dinasti Saljug menganut aliran syi’i. Dinasti Buwaihi beruasah menanamkan pengaruh aliran syi’i di tengah-tengahh masyarakat melalui propaganda termasuk melakukan aktivitas pendidikan. Dinasti saljug sendiri menganut aliran sunni, yang memiliki doktrin atau ideologi yang berbeda dengan syi’i. oleh itu, bagaimana caranya agar dinasti saljug mampu menghilangkan pengaruh dari paham-paham syi’i yang disebarkan oleh dinasti buwaihi. Kemudian, untuk mengatasinya dinasti menerapkan propaganda tandingan salah satunya melalui pendidikan. Oleh karena itu, madrasah didirikan di seluruh wilayah kekhalifahan abbasiyah yang dikuasai oleh dinasti saljug. Sehingga pada masa ini, institusi pendidikan berupa madrasah ini menjdi cukup fenomenal. Banyak alasan yang bisa dikemukakan mengapa pemerintah saljug sangat antusias dalam mendirikan madrasah-madrasah, beberapa diantaranya adalah:
1.    Untuk mengambil hati rakyat
Salah satu cara agar masyarakat menjadi simpati terhadap mereka adalah dengan jalan memajukan agama serta mendukung aktivitas pendidikan untuk masyarakatnya. Wujud dari keinginan ini adalah didirikannya madrasah di berbagai tempat seperti di Baghdad, Mesir, dan beberapa daerah lainnya.
2.    Untuk mengharapkan pahala dan ampunan dari Tuhan
Pemerintah-pemerintah pada waktu itu banyak melakukan penyimpangan-penyimpangan. Mereka jarang memperhatikan rakyatnya, mereka justru hanya sering berpesta dan melakukan kegiatan yang tidak penting lainnya. Oleh karena itu, mereka beramal mendirikan madrasah untuk kepentingan pendidikan masyarakat. Dengan cara ini mereka berharap mendapat ampunan dan ridha dari Allah.
3.    Untuk memelihara kehidupan anaknya di kemudian hari
Pejabat Turki yang menjadi wali dalam suatu wilayah telah menjadi kaya raya. Namun, mereka mengkhawatirkan kekayaan mereka diambil oleh sultan ketika mereka mati nanti, sehingga menjadikan anak-anak keturunan mereka terlantar. Oleh karena itu, mereka mewakafkan harta kekayaan mereka dengan syarat anak keturunan mereka yang menjadi pengurus dari wakaf tersebut. Dan secara otomatis anak mereka mendapat bagian dari wakaf tersebut, sehingga menjamin kehidupan mereka.
4.    Untuk memperkuat aliran keagamaan pemerintah
Pada masa dinasti saljug, terdapat dua aliran yang saling bertentangan yanitu sunni dan syi’i. Dinasti saljug sendiri menganut aliran sunni. Agar kekuasaan mereka tetap bertahan, maka mereka mendirikan madrasah-madrasah sebagai alat propaganda dan indoktrinasi ideologi di dalam wilayah-wilayah yang dikuasai oleh orang-orang Turki saljug ini.[5]
Dari uraian-uraian diatas, dapat dilihat bahwasanya pendirian madrasah sangat sarat dengan kepentingan pemerintah atau penguasa.
Materi Pendidikan yang Dominan yang diberikan di Lembaga Pendidikan
Di antara institusi pendidikan yang dominan pada masa saljug adalah madrasah. Pendirian madrasah pada saat itu lebih didorong karena adanya kepentingan politik. Di mana madrsah sebagai alat propaganda untuk menekan pengaruh syi’i dan menyebarluaskan sunni di dalamnya. Salah satu cara yang digunakan dalam menyebarluasakan ajaran sunni adalah dengan memasukkan ajaran sunni tersebut ke dalam kurikulum madrasah. Sehingga materi keagamaan cukup mendominasi dalam kurikulum pedidikan madrasah pada saat itu. Sedangkan ilmu-ilmu kealaman seperti fisika,kimia, astronomi tidak dimasukkan ke dalam kurikulum madrasah hal ini mengingat tentang motif pendirian madrasah tersebut, yakni politik dan ideologi.
Bukti dominasi ilmu-ilmu keagamaan dalam madrasah juga terbukti dari dokumen wakaf madrasah Nizamiyyah. Yakni:[6]
1.      Nizamiyyah merupakan wakaf yang disediakan untuk kepentingan penganut mazhab syafi’i dalam fikih dan ushul fikih
2.      Harta benda yang diwakafkan kepada Nizamiyyah adalah untuk kepentingan penganut mazhab sayfi’i dalam fikih dan ushul fikih
3.      Pejabat-pejabat utama Nizamiyyah harus bermadzab syafi’i dalam fikih dan ushul fikih
4.      Nizamiyyah harus memiliki seorang tenaga pengajar bidang kajian Al-Qur’an
5.      Nizamiyyah harus mempunyai seorang tenaga pengajar Bahasa Arab
6.      Setiap staf menerima bagian tertentu dari penghasilan yang diperoleh dari wakaf Nizamiyyah.
III.      Pendirian madrasah Nizamiyyah
                        Pendirian Madrasah Nidzamiyah Salah satu jenis lembaga pendidikan  tinggi yang muncul pada abad IV Hijriah adalah madrasah. Sedangkan Nizhamiyah adalah sebuah lembaga pendidikan yang didirikan tahun 457-459 H/1065-1067 M (abad VI) oleh  Nizham al-Mulk Dari dinasti Saljuk. Nizham al-Mulk mempelopori pendirian madrasah-madrasah. Madrasah Nidzamiyah di Baghdad merupakan madrasah yang pertama kali didirikan oleh Nizam al-Mulk pada bulan Dzulhijjah tahun 457 H. yang diarsiteki oleh Abu Said al-Shafi. Selain itu dia juga mendirikan madrasah-madrasah di daerah daerah  lain di bawah kekuasaan Bani Saljuk. Pendirian madrasah madrasah disamping untuk mengembangkan pendidikan Islam juga sebagai media untuk menanamkan ajaran-ajaran dari paham Sunni.                                
            Nizham al-Mulk mendirikan gedung-gedung ilmiah untuk ahli fikih, membangun madrasah-madrasah untuk para ulama dan asrama untuk orang beribadah serta fakir miskin. Pelajar yang tinggal di asrama diberi belanja secukupnya dari uang negara dengan jumlah yang tidak sedikit Nizam al-Mulk. Akibatnya, Nizham al-Mulk mendapat teguran dari Malik Syah karena diadukan orang, bahwa uang yang dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan  dan pengajaran tersebut merupakan usaha Nizham al-Mulk  untuk menaklukkan kota Qustantiah (Constantinopel). Tindakan Nizham al-Mulk ini akhirnya dapat diterima oleh Malik Syah setelah dijelaskan alasan yang logis dan bahkan dapat menyadarkan khalifah. Begitu besarnya perhatian Nizham al-Mulk terhadap pendidikan dan pengajaran sebagaimana yang dinyatakan oleh Ahmad Syalabi :
            Tidak satupun negeri yang didapatkan tidak mendirikan madrasah oleh Nizham al-Mulk, sehingga pulau yang terpencil di sudut dunia yang jarang didatangani manusia juga didirikan madrasah yang besar lagi bagus. Ditemukannya orang terkenal berpengetahuan luas dan mendalam disuruh mengajar dan memberi sekolah itu wakaf dilengkapi dengan perpustakaan.
            Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa Madrasah Nizhamiyah adalah madrasah yang pertama kali muncul dalam sejarah pendidikan Islam yang berbentuk lembaga pendidikan islam yang berbentuk lembaga pendidikan dasar sampai perguruan tinggi yang dikelola oleh pemerintan.
IV.       Rekonstruksi Pendidikan di Indonesia
Setelah melihat pemaparan di atas, banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari pemerintahan dinasti saljug tersebut. Usaha-usaha yang dilakukan pemerintah pada masa itu dapat kita jadikan sebagai inspirasi untuk memperbaiki pendidikan pada masa kini.
Salah satu faktor yang membuat dinasti Saljug berhasil dalam pemerintahannya adalah karena pemerintah pada masa dinasti Saljug sangat memperhatikan masalah ilmu pengetahuan (pendidikan). Selain itu, mereka juga melaksanakan pembangunan madrasah hingga ke daerah-daeraah terpencil. Hal ini seharusnya dapat menjadi contoh untuk pemerintah kita dalam rangka pemerataan pendidikan. Pada faktanya, pada saat ini di negara kita masih ada desa-desa terpencil yang belum memilki sekolah atau madrasah.
Nizam Al-Mulk mampu mendirikan madrasah-madrasah yang bagus di daerah terpencil dengan menggunakan dana dari Negara. Hal tersebut juga seharusnya dapat dilakukan oleh pemerintah. Daripada mereka membangun gedung-gedung pemerintahan yang megah dan mengeluarkan banyak biaya, lebih baik anggaran tersebut digunakan untuk membangun sekolah-sekolah di daerah terpencil serta sekolah-sekolah yang masih belum layak digunakan. Di mana sekolah tersebut mampu membantu masyarakat untuk memperoleh pengetahuan, baik pengetahuan umum maupun pengetahuan agama yang mampu memperbaiki akhlak dan moralnya. Namun yang terpenting, sekolah yang didirikan tersebut tidak menjadi sarana untuk kepentingan politik. Misalnya, sekolah didirikan hanya untuk memperkenalkan salah satu ormas, seperti Nu, Muhammadiyah, dan sebagainya. Akan tetapi sekolah tersebut benar-benar sebagai institusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Untuk menghadapi masalah biaya dalam pendidikan, pemerintah dapat memberikan beasiswa atau mendirikan asrama yang ditujukan untuk fakir miskin. Seperti yang dilakukan oleh Nizam al-mulk pada waktu itu. Hal tersebut mnungkin sudah dilaksanakan oleh pemerintah kita, namun pembagiannya belum merata dan tidak seluruhnya sampai pada sasaran. Sebaiknya pendidikan yang ada di Indonesia memperhatikan pandidikan yang ada di daerah terpencil, serta harus menggunakan anggaran dana yang 20% dari APBN.


Daftar Referensi

Alamsyah, Yosep Asfat. 2005. Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: kencana Prenada Media Group

PBMNBB, tak ada sekolah dan listrik di dua desa kecamatan sipoholon, nababan.wordpress.com /2011/11/19. Diakses pada tanggal 14 April 2012, Pukul 19.15 Wib

Mochammad Jafar, Peradaban Pendidikan Dinasti Seljuk, http:/mochammad. wordpress. com / 2011/06/10, diakses pada tanggal 14 April 2012, pukul 18.50 Wib

Yunus, Mahmud. 2008.Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Hidakarya


[1] PBMNBB, tak ada sekolah dan listrik di dua desa kecamatan sipoholon, nababan.wordpress.com /2011/11/19.
[2] Yosep Asfat Alamsyah, Sejarah Sosial Pendidikan Islam , (Jakarta: kencana Prenada Media Group, 2005), hlm. 147

[3] Mochammad Jafar, Peradaban Pendidikan Dinasti Seljuk, http:/ mochammad. wordpress. com / 2011/06/10.
[4] Yosef Asfat Alamsyah, Sejarah Sosial Pendidikan Islam...hlm. 151
[5] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Hidakarya, 2008),hlm. 72
[6] Yosef Asfat Alamsyah, Sejarah Sosial Pendidikan Islam...hlm. 155

0 comments:

Post a Comment